Minggu, 16 November 2008

masih

tangis itu masih keras terdengar di gendang telingaku.
jeritan-jeritan kesakitan
teriakan kemarahan.
semua berbaur jadi satu dilatarbelakangi suara tawa tirani.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

ahooyy, lewi sdh lama tdk berposting ria. sabi le! oiya, bait terakhir itu le menjelaskan kenapa judulnya ironi. org tsb bapaknye le, die pergi kerja ke markas kan apel tuh namanya, supaya bisa makan dan minum keluarganya. hahaha! kerenkan, kerenkan, anes te ya?!

wah le buat puisi lo yg ini, punya versi beda ni le gua, sory ye, ttp jaga orisinalitas lo le.

tangis itu masih pilu
keras bertalu di telingaku.
juga jeritan jeritan marah
yang kesakitan
semua berbaur jadi satu
tapi tak pernah mampu
tandingi suara tawa tirani.

thomassilvano mengatakan...

telinga koyak
tersobek jerit
marah luka meruyak
di atas tiran menghimpit

dada ini bara
duri segala airmata